Butet Kertaradjasa menulis seperti ini mengenai tempat makan di Jogja: Namun, sensasi itu (sensasi anyar) bisa jadi karena memang penjualnya yang kelewat percaya diri terhadap produk jualannya sehingga kurang peduli pada aspek pelayanan. Itu tercermin dari tempatnya yang terkesan rada jorok, tidak menyediakan toilet yang pantas, penyajiannya sangat sederhana dan pelayanannya pun terkesan semau gue. (http://community.kompas.com/index.php/read/artikel/273)
Restoran Ayam Goreng Mbok Sabar yang terletak di Jalan Jagalan, Yogyakarta, menurut saya adalah salah satu contoh warung makan yang kelewat pede. Mereka pede dengan menu tunggal mereka. Apa itu? Ayam Goreng. Titik. Jadi ketika saya makan siang di sana bersama teman-teman saya dan meminta menu, kami kaget dengan jawaban, ”Ya menunya ayam itu.” Tanpa perlu mengetahui tamu pesan berapa dan apa, mereka langsung menyajikan sepiring ayam goreng di meja, lengkap dr ceker sampe kepala. Pendampingnya? Sepiring lalapan dan sambal. Tidak ada menu lain atau variasi lain. Minuman yang disediakan pun minimalis, berkisar antara es jeruk, es teh, dan soda gembira (yang paling canggih). Minusnya restoran ini adalah harganya yang menurut saya sedikit kemahalan. Tidak bakal merampok kantong sih. Satu orang rata-rata menghabiskan 25 ribu sampai 30 ribu untuk nasi, sepotong ayam, dan minuman. Satu ekor ayam utuh dihargai 50 ribu. Tapi berhubung emang enak ya tetep aja kita bungkus banyak buat dibw pulang ke jakarta.
Minus lainnya adalah tempat yang kurang memadai , mejanya terkesan jadoel dan kursinya tak terawat, belum lagi tdk adanya fasilitas toilet yang bersih.Pelayanannya pun terkesan asal2an dan lamaaaaa... sesuai dengan namanya aja. Untung saja ayam gorengnya emang enak jd tetep mampu buat exist.
No comments:
Post a Comment